KONFERENSI TINGKAT TINGGI ASIA AFRIKA 2005 DAN PERINGATAN 50 TAHUN KONFERENSI ASIA AFRIKA

(INDONESIA, 22 – 24 APRIL 2005) Kondisi dunia internasional sudah berubah. Tantangan lebih bergeser ke masalah globalisasi ekonomi dan termarjinalisasinya Negara Asia dan Afrika, namun spirit Dasasila Bandung masih tetap relevan sebagai dasar kerja sama antarnegara dalam menghadapi situasi tersebut. Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika 1955, melihat bahwa kemitraan Asia Afrika memiliki arti strategis yang bisa direvitalisasi.

Diawali dari ajakan Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki (Ketua Uni Afrika), pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Phnom Penh, Kamboja (November 2002) yang menyerukan agar Asia bekerja sama dengan Afrika mewujudkan kemajuan, kesejahteraan, dan perdamaian bersama. Gagasan itu disambut baik oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Kedua negara tersebut sepakat menggulirkan Phnom Penh Initiative ini.

Untuk menindaklanjutinya, diadakanlah Konferensi Organisasi Subregional Asia Afrika (Asian African Sub Regional Organizations Conference/AASROC) sebagai sarana menjalin kerja sama Asia dan Afrika yang lebih kongkret.

AASROC I di Bandung (29 – 30 Juli 2003) dihadiri delegasi dari 36 negara serta 22 organisasi subregional dan internasional. Pertemuan ini menghasilkan “Pernyataan Ketua Bersama” (Co Chairs Statement) yang menetapkan bahwa Indonesia dan Afrika Selatan menjadi tuan rumah bersama pada konferensi antarnegara Asia dan Afrika. Negara Asia dan Afrika juga sepakat membentuk badan kemitraan Asia Afrika, yang akan menjadi jembatan untuk memecahan persoalan-persoalan yang dihadapi negara-negara di kedua benua tersebut.

Kemudian pada 24 Maret, dilakukan pertemuan Kelompok Kerja Tingkat Menteri AASROC yang berlangsung di Durban, Afrika Selatan. Hadir pada saat itu delegasi dari 19 negara dan 10 organisasi dari Benua Asia dan Afrika. Pertemuan Durban menetapkan “Laporan Perkembangan Ketua Bersama” (Co Chairs Progress Report). Laporan tersebut memberikan petunjuk lebih lanjut dan penjelasan lebih mendalam tentang bentuk dan sifat kerja sama Asia Afrika. Pembentukan badan kerja sama yang diberi nama Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP) ini  semakin dimatangkan.

Puncaknya adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika di Jakarta (22 – 23 April 2005) yang dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dan peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung (24 April 2005). Konferensi tersebut diikuti oleh para delegasi dari 106 Negara Asia dan Afrika, 18 organisasi internasional, serta hadir pula Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kofi Annan.

Peserta konferensi ini mencatat bahwa sejak konferensi 1955 Negara-negara Asia dan Afrika telah meraih kemajuan yang signifikan di bidang politik, yaitu dengan keberhasilannya memerangi kolonialisme dan konsisten memerangi rasisme. Berakhirnya apartheid  tidak mengurangi tekad kerja sama Asia Afrika untuk menghapuskan rasisme dan berbagai bentuk diskriminasi. Namun, meski demikian, Negara-negara Asia Afrika tetap prihatin karena belum menjadi kemajuan yang sepadan di bidang sosial dan ekonomi. Sejumlah masalah seperti kemiskinan dan keterbelakangan, kesetaraan jender, penyebaran penyakit, degradasi lingkungan, bencana alam, kekeringan dan penggurunan, kepincangan digital, akses pasar yang layak, dan utang luar negeri, memerlukan tindakan kolektif dan kerja sama yang lebih erat dalam mengatasinya.

Para pemimpin Asia Afrika juga mencita-citakan kawasan Asia Afrika yang damai dalam peta dunia secara keseluruhan, di mana umat manusia bisa hidup dalam stabilitas, kemakmuran, memiliki harga diri, dan terbebas dari rasa takut dan kekerasan, tekanan, dan ketidakadilan.

Perhelatan akbar dua benua ini menghasilkan apa yang disebut “Nawasila” (sembilan prinsip) yang dikemukakan dalam Deklarasi NAASP sebagai produk akhir dari KTT tersebut.

Dalam NAASP ini, prinsip-prinsip dasar kemitraan strategis dilengkapi dengan mekanisme kerja sama yang lebih jelas, terarah, dan terukur. Secara politis, NAASP membangun jembatan antara Asia dan Afrika yang mencakup tiga bidang utama kemitraan, yaitu solidaritas politik, kerja sama ekonomi, dan hubungan sosial budaya. Kemitraan strategis ini dibuat sebagai sebuah momentum untuk mencapai perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan dengan berlandaskan pada sembilan prinsip atau Nawasila.

Kesembilan prinsip itu adalah :

  1. Dasasila Bandung yang dihasilkan dari Konferensi Asia Afrika 1955.
  2. Pengakuan atas  keanekaragaman antara dan di dalam wilayah, termasuk sistem ekonomi dan sosial, dan tingkatan pembangunan.
  3. Komitmen pada dialog terbuka, berlandaskan saling menghormati dan keuntungan bersama.
  4. Memajukan kerja sama noneksklusif dengan melibatkan seluruh stakeholders.
  5. Pencapaian kerja sama praktis dan berkelanjutan berlandaskan keuntungan komparatif, kemitraan sejajar, visi dan pemilikan bersama, dan juga tekad bersama yang kuat untuk menangani tantangan-tantangan bersama.
  6. Memajukan kemitraan berkelanjutan melalui melengkapi atau membangun inisiatif regional/subregional yang sudah ada di Asia dan Afrika.
  7. Memajukan masyarakat yang adil, demokratik, terbuka, bertanggung jawab, dan harmonis.
  8. Memajukan dan melindungi hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan fundamental, termasuk hak untuk membangun.
  9. Memajukan upaya-upaya kolektif dan terpadu dalam fora-fora multilateral.

Dalam pidato Pembukaan KTT Asia Afrika 2005, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan :

Perjuangan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika pada saat ini bukan lagi untuk meraih kemerdekaan, tetapi untuk mencapai kehormatan sebagai manusia (human dignity)….

(dan) pertemuan kita hari ini adalah untuk meresmikan jembatan baru yang melintasi Samudra Hindia, jembatan yang menghubungkan antara dunia yang mengagumkan, yaitu Asia dan Afrika…

Asia dan Afrika, sekarang ini menjadi sebuah rumah, yaitu rumah bagi organisasi-organisasi regional dan subregional, juga rumah bagi perkembangan hubungan bilateral dan multilateral.”

Pertemuan dan Konferensi yang Berlangsung setelah Konferensi Asia-Afrika, di Gedung Merdeka Bandung

  • 1956, Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika
  • 1961, Sidang Dewan Setiakawan Rakyat Asia-Afrika
  • 1965, Konferensi Islam Asia-Afrika
  • 1970, Kongres Pertama Organisasi Islam Afrika-Asia (The Afro-Asian Islamic Organization)
  • 1980, Peringatan ke-25 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus pembukaan Sidang Komite Ahli Hukum Asia-Afrika ke-21(Asian-African Legal Consulative Commite/AALCC) dan peresmian Museum Konferensi Asia-Afrika.
  • 1983, Peresmian Pusat Studi dan Pengkajian Masalah Asia-Afrika dan Negara-Negara Berkembang
  • 1984, Kunjungan peserta Konferensi Menteri Penerangan Negara-Negara Nonblok (The Conference of the Minister of information of non-Aligned Countries/COMINAC)
  • 1985, Peringatan yang ke-30 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus membacakan “Pesan Bandung” (“Bandung Message”)
  • 1990, Peringatan ke-35 Konferensi Asia-Afrika
  • 1991, Kunjungan peserta Konferensi Menteri Pariwisata Asia(Pasifik Asian Tourism Association/PATA)
  • 1991, Kunjungan Peserta Organisasai Konferensi Islam (The Organization Islamic Conference)
  • 1992, Kunjungan Peserta KTT ke-10 gerakan Nonblok sekaligus napak tilas Konferensi asia-Afrika 1955
  • 1995, Kunjungan peserta Sidang Konferensi IX Organisasi Islam (The Organization Islam Conference)
  • 1995, Peringatan ke-40 Konferensi Asia-Afrika
  • 2000, Peringatan ke-45 Konferensi Asia-Afrika oleh “Bandung Spirit”
  • 2005, Peringatan ke-50 Konferensi Asia-Afrika, sekaligus penandatanganan Deklarasi “Nawasila”hasil Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika
  • 2008, Seminar Regional Pasific