Kunjungi Museum KAA, Dubes Polandia Terkesan dengan Pidato Sukarno di KAA

foto-kunjungan2 Duta Besar Polandia H.E. Beata Stoczyñska mengunjungi Museum KAA pada Jumat, (25/1/2019). Kepala Musem KAA Meinarti Fauzie menerima dan mendampingi langsung kunjungan itu. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Duta Besar Polandia untuk Indonesia H.E. Beata Stoczyñska terkesan dengan pidato Presiden Soekarno di sidang pembukaan KAA 64 tahun di Kota Bandung. Ia menyimak hampir separuh dari pidato berdurasi 50 menit yang bertajuk asli Let a New Asia and a New Africa be Born itu.

Usai mendengar pidato Presiden Sukarno, Dubes Polandia ini tampak sangat terkesan. “Saya bisa mendengar langsung pidato aslinya di museum ini,” akunya kepada Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie yang mendampingi kunjungan itu.

Dalam kunjungan selama satu jam di Museum KAA, koleksi rekaman pidato Presiden Sukarno ternyata bukan satu-satunya yang menarik perhatiannya. Bendera negara peserta KAA sejak KAA 1955, KTT Asia Afrika 2005 hingga KAA 2015 tak luput dari perhatiannya. “Ada beberapa negara yang berganti benderanya,” ujarnya sambil mengamati dan mengabadikan lewat lensa kameranya satu per satu jajaran 109 bendera negara Asia dan Afrika yang dipamerkan di ruang sidang asli KAA itu.

foto-kunjungan1Duta Besar Polandia H.E. Beata Stoczyñska sedang menyimak koleksi rekaman suara pidato Presiden Sukarno saat membuka resmi sidang KAA 1955. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Dubes Polandia itu bahkan tak mampu menutupi rasa terkejutnya saat menemukan sejumlah koleksi Museum KAA yang menampilkan soal Polandia. Meski Polandia bukan peserta KAA, peristiwa Perang Dingin yang melatari KAA tak terlepas dari negara yang terletak Eropa Tengah itu.

Misalnya, koleksi foto pasukan Jerman di perbatasan Polandia dan Jerman di sektor panel latar belakang KAA. Foto itu memperlihatkan sejumlah pasukan Jerman mematahkan barikade yang menjadi penanda perbatasan Polandia dan Jerman. Aksi sepihak itu tercatat dalam sejarah sebagai simbol dimulainya Perang Dunia II di Eropa.

Lalu, informasi tentang tewasnya wartawan Polandia dalam tragedi pesawat Kashmir Princess. Pesawat malang itu membawa sejumlah delegasi KAA asal Tiongkok dan jatuh di sekitar laut Natuna hanya beberapa hari menjelang perhelatan KAA. Turut menjadi korban dalam peristiwa mengenaskan itu seorang wartawan asal Polandia dan Austria.

“Ya dulu kita komunis, makanya ada dua jurnalis Polandia di pesawat itu. Tapi sekarang kita bukan negara komunis lagi,” katanya saat melihat koleksi Tragedi Kashmir Princess di Ruang Pameran Tetap Museum KAA.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengungkapkan, Dubes Polandia sangat terkesan dengan sejarah KAA. “Bahkan, beliau juga sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki buku The Bandung Connection versi Bahasa Inggris (red-buku sejarah KAA),” ungkapnya.

Usai berkeliling museum, Duta Besar Polandia H.E. Beata Stoczyñska sempat menorehkan kesannya yang mendalam terhadap KAA di buku tamu Museum KAA. Ia menulis, “Sebuah kehormatan dapat mengunjungi Museum KAA yang memperingati peristiwa politik penting KAA 1955. Peristiwa itu telah mengubah sejarah kontemporer kedua benua Asia dan Afrika,”.

Kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan selama tiga hari Duta Besar Polandia di Kota Bandung dalam rangka penjajakan potensi kerja sama pendidikan, ekonomi, dan pariwisata dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Sumber: Museum KAA