Lakukan Strategi ‘2 K’, Museum KAA Tak Pernah ‘Tutup’ di Masa Pandemi

17122020

Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi tengah memimpin rapat evaluasi program kerja Museum KAA tahun 2020 di Hotel Panorama Jalan Raya Tangkuban Parahu No.29 Jayagiri Lembang. (Sumber: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Pandemi Covid-19 telah mengubah segala hal. Museum pun tak luput kena getahnya. Sebab, pandemi telah mentransformasi pengunjung museum menjadi pengunjung virtual. Akibatnya, Museum KAA memilih strategi ‘2 K’, yakni mentransformasi target kuantitas menjadi kualitas.

Dalam praktiknya, target kuantitas yang identik dengan pengunjung fisik diubah jadi target pengunjung virtual. Seiring itu, nyaris semua saluran publikasi Museum KAA mengalami lonjakan pengunjung. Dengan demikian, meski Museum ini masih ditutup bagi kunjungan fisik publik, akan tetapi Museum ini tetap memberikan pelayanan melalui pemanfatan teknologi digital dan media sosial.

Peristiwa lonjakan ini mendominasi topik evaluasi program kerja Museum KAA yang dipimpin langsung Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi. Rapat digelar selama tiga hari mulai tanggal 12 hingga 14 Desember 2020 di Hotel Panorama di Jalan Raya Tangkuban Parahu No.29 Jayagiri Lembang.

Tercatat dalam hasil evaluasi, Dahlia menjelaskan, lonjakan kehadiran pengunjung virtual dialami Museum KAA sejak bulan Maret 2020 bertepatan dengan pemberlakukan PSBB nasional. Tautan tur virtual Museum KAA yang disematkan pada laman situs www.asianafricanmuseum.org mengalami peningkatan pesat hingga tiga kali lipat.

Tautan ini, menurut Dahlia, sejatinya telah mengalami pemutakhiran isi pada tahun 2018. Awalnya tautan tur virtual ini telah melengkapi bentuk pelayanan publik Museum KAA sejak tahun 2012 silam. Pengelola museum yang berada di bilangan Asia Afrika Bandung ini sengaja menghadirkan tur virtual untuk memperluas jangkauannya jauh sebelum era pandemi sekarang.

Dahlia melanjutkan, di luar itu evaluasi memperhatikan sejumlah artikel di laman situs museum ini juga meraih jumlah pembaca yang tak biasa. Pasalnya, terdapat sejumlah artikel yang ditayangkan sejak bulan April 2020 tak dinyana meraih pembaca lebih dari 1000 dan bahkan ada yang mencapai 2000 pembaca.

Akan halnya program edukasi daring mingguan IG Live Talkshow bertajuk ‘Ngobrol Bareng Edukator’, pada penghujung tahun ini telah memasuki episode ke-25. Program ini sejak digulirkan perdana pada bulan Mei 2020 tak pernah gagal mencuri perhatian publik. Pasalnya, jumlah viewers tak pernah kurang dari 100 kala tayang. Bahkan, pasca tayang jumlahnya terus menanjak di saluran IGTV.

Dahlia pula mengungkapkan, hal serupa ternyata dialami oleh sejumlah komunitas yang bernaung di Sahabat Museum KAA (SMKAA). Klab Edukator SMKAA selama masa pandemi secara rutin menggelar diskusi daring setiap akhir pekan bertajuk ‘Sabtu Bersama Sahabat’. Melalui diskusi daring ini, Klab Edukator yang bermitra dengan Museum KAA dalam menyebarluaskan Sejarah dan Nilai-nilai KAA justru mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Hingga kini tak kurang dari 30 topik telah dibahas secara daring dengan berbagai narasumber.

Demikian pula dengan komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC), tambah Dahlia. Klab literasi dengan metoda tadarus (red – membaca nyaring bersama) ini tetap eksis menggaungkan semangat literasi Asia Afrika.

Mereka menayangkan aktivitas diskusi buku secara bekala setiap Rabu petang melalui saluran IG Live. Di masa pandemi ini, AARC sedikitnya telah menamatkan empat buku. Di antaranya adalah buku Pater Pancali, buku Empat Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda (1927), buku Mencari Sukma Indonesia, dan dokumen Pidato PM Ali Sastroamidjojo di Parlemen RI (1953).

Terakhir, Dahlia mengatakan, Forum Studi Asia Afrika (FSAA) pun tak ketinggalan. FSAA bekerja sama dengan Radio Online Metrum Bandung di bilangan Jatihandap Bandung memproduksi podcast dalam acara Arah Pandang: Bincang Ideologi dan Politik Internasional setiap Kamis petang. Hingga kini telah tayang sedikitnya 62 episode podcast yang umumnya memuat konten edukasi tentang isu-isu keamanan non-tradisional di kawasan Asia dan Afrika.

Target kualitas memerlukan kreativitas bukan saja dalam memilih kanal media sosial tapi juga memilih dan mengemas konten menjadi sesuatu yang komunikatif dan renyah untuk publik. Itu penting sekali dalam strategi ini,” tutup Dahlia sambil mengingatkan pentingnya menjaga kualitas yang berkesinambungan dalam implementasi strategi ini.

Sumber: Museum KAA

Share