Meski Pandemi, Museum KAA Tetap Berkiprah dan Terus Perkuat Koordinasi serta Sinergisitas Antar Lembaga

17112020

Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari, S.Sos.,M.A. berfoto bersama Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi usai sesi audiensi pembahasan program kerja sama tahun 2021 pada Selasa, 17/11/2020 di Jl. Ahmad Yani No.227 Bandung. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Akibat pandemi, Museum Konperensi Asia Afrika (Museum KAA) hingga kini masih ditutup bagi kunjungan fisik publik. Akan tetapi, Museum ini tetap memberikan pelayanan melalui pemanfatan teknologi digital dan media sosial, serta terus memperkuat koordinasi dan sinergisitas dengan berbagai stakeholders di Kota Bandung. Tujuannya tak lain adalah supaya Museum dapat menyesuaikan pelayanan publik di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Berkelindan itu, Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi melakukan audiensi bersama Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari, S.Sos.,M.A. pada Selasa, 17/11/2020 di Jl. Ahmad Yani No.227 Bandung.

Selain memperkenalkan diri selaku pemimpin baru Museum KAA, dalam kesempatan itu Dahlia juga membahas rencana program kerja sama ke depan antara Museum KAA dan Disbudpar Kota Bandung.

Program itu, seperti diutarakan oleh Dahlia, antara lain meliputi rencana pembukaan kembali Museum KAA untuk kunjungan publik, penyelenggaraan Asia-Africa Festival 2021, dan pembuatan film dokumenter Bandung: The Capital of Asia-Africa.

Gayung bersambut, kata terjawab. Dewi Kaniasari menanggapi positif rencana pembukaan kembali Museum KAA, namun karena kondisi pandemi, pembukaan tersebut harus melalui prosedur permohonan rekomendasi kepada Walikota Bandung. Untuk saat ini pemberian rekomendasi cukup ketat persyaratannya lantaran Kota Bandung masih dalam kondisi darurat Covid-19.

Menyoal Asia-Africa Festival 2021, Dewi menjelaskan bahwa program itu telah masuk agenda nasional dan menjadi prioritas agenda pariwisata untuk pemulihan ekonomi. Festival tahunan ini, jelasnya, agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya lantaran situasi pandemi.

Terakhir Dewi juga menyambut baik rencana Museum KAA dalam pembuatan film dokumenter bertajuk Bandung: The Capital of Asia-Africa. Ia mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dalam pembuatan film tersebut.

Di penghujung audiensi, Dahlia mengatakan, mengingat situasi pandemi yang belum mereda Museum KAA masih akan tetap memfokuskan pelayanan secara virtual sambil terus mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia menjelaskan, audiens museum yang telah menginjak usia 40 tahun ini sangat beragam. Mereka, urainya, meliputi bukan saja pengunjung yang ingin melihat koleksi sejarah KAA tapi juga para peneliti, dan counterparts baik domestik maupun asing yang memerlukan kerja sama di bidang penelitian, seni, dan budaya.

Dalam kesempatan itu, baik Dewi dan Dahlia sama-sama memandang strategis integrasi program Asia-Africa Festival 2021 ke dalam agenda Peringatan ke-66 Tahun Konferensi Asia Afrika yang akan digelar oleh Museum KAA tahun depan.

Tak hanya itu, keduanya juga sepakat soal urgensi film dokumenter Bandung: The Capital of Asia-Africa. Film yang dirancang memuat sejarah peristiwa KAA ini diharapkan dapat sekaligus mempromosikan pariwisata Indonesia, khususnya Kota Bandung, di tingkat global.

Sumber: Museum KAA

Share