Museum KAA 40 Tahun Merawat Nyala Api Bandung

BANDUNG, MUSEUM KAA — Usia 40 tahun kerap dianggap sebagai capaian titik matang dalam sebuah perjalanan usia. Demikian pula dengan Museum KAA yang menginjak usia 40 tahun pada Jumat, 24 April 2020 ini. Dalam perjalanan usia yang tak lagi muda itu, Museum KAA tetap berkomitmen pada visinya untuk melestarikan Nilai-nilai KAA yang lahir dari peristiwa KAA enam puluh lima tahun silam.

Museum yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri ini berdiri atas gagasan Menteri Luar Negeri RI Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja dengan tujuan untuk melestarikan nilai-nilai juang KAA dan kemudian diresmikan oleh Presiden RI Soeharto bertepatan dengan puncak Peringatan 25 Tahun KAA pada 24 April 1980.

Seiring waktu berjalan, museum ini terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang turut mempengaruhi interaksi publik terhadap museum. Kelahiran Sahabat Museum KAA pada 11 Februari 2011 merupakan titik balik interaksi Museum KAA terhadap publik. Sejak itu pula, berkat sinergi dengan Sahabat Museum KAA, museum ini dikenal secara luas sebagai pelopor dalam implementasi konsep participatory public di Indonesia.

Tercatat hingga kini, konsep itu telah menghantarkan sejumlah penghargaan, yakni Friendly Museum (2014), Fun Museum (2015), Museum Terbaik di Tingkat Kementerian/Lembaga/BUMN/TNI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), Museum Peduli Bahasa dari Balai Bahasa Propinsi Jawa Barat (2016), Fun Museum (2017), TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik dan TOP 40 Inovasi Pelayanan Publik ‘Jarum Pentul – Jadi Relawan Museum Itu Penting dan Gaul’ dari Kemenpan RB (2018), dan penghargaan Wilayah Bebas dari Korupsi dari Kemenpan RB (2019).

Dalam usia ini, Museum KAA akan terus mengembangkan strategi belajar, media belajar, dan sumber belajar demi Api Bandung yang tetap menyala-nyala menghangatkan relung hati kebangsaan generasi penerus bangsa.

Sumber: Museum KAA

 

Share