Museum KAA Gelar Diskusi 56 Tahun GNB

KAA-GNB

Bandung: Museum KAA kembali menggelar forum ilmiah berupa kegiatan seminar berseri Update from the Foreign Ministry. Tahun ini seminar berseri baru memasuki tahun perdana. Kegiatan dimaksudkan untuk memberikan informasi terkini dari Kementerian Luar Negeri atas isu-isu internasional serta hal-hal terkait dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang sekiranya perlu mendapat perhatian publik.

Kegiatan ini direncanakan menjadi tradisi ilmiah dan forum bersama para diplomat sebagai praktisi hubungan internasional dan mahasiswa peminat kajian isu dinamika global kontemporer di Museum KAA. Demikian dijelaskan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dalam sambutannya saat membuka resmi acara.

Seminar dilaksanakan pada Jumat, (29/9) di Ruang Pameran Tetap Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. Dalam seminar itu hadir sebagai narasumber Roy Rolliansyah Soemirat (Deputi Direktorat Sosial Budaya OINB Kemlu). Selainnya, ada dua narasumber lain yang mewakili tinjauan akademis, yakni Iyan Septiyana (Sekolah Pasca Sarjana Universitas Katholik Parahyangan) dan Defbry Margiansyah (Universitas Albert Ludwig Freiburg Jerman).

Tema GNB, jelas Meinarti, dipilih menjadi topik seminar dalam rangka peringatan 56 tahun berdirinya Gerakan Nonblok. “Kami setiap bulan September memperingati hari jadi GNB. Sebab, sejarah GNB adalah bagian dari sejarah panjang KAA,” ujarnya.

Menurut Roy yang banyak membagikan pengalamannya dalam menangani berbagai isu terkait GNB, Indonesia merupakan salah satu negara anggota GNB yang terus berkomitmen berperan aktif merawat GNB melalui berbagai program positif. Indonesia, lanjutnya, tak hanya diakui sebagai salah satu pendiri GNB di masa Perang Dingin tapi juga berperan penting mendorong perubahan paradigma isu Peace and Security GNB pasca Perang Dingin.

Berdasarkan itu, imbuh Roy, GNB memiliki sejumlah tantangan, seperti latar belakang negara anggota yang beragam. Tak hanya itu, jumlah negara anggota GNB idealnya dapat menjadi kekuatan strategis.

“Dua hal lain adalah bagaimana GNB menjadi wadah utama bagi pencapaian kepentingan negara berkembang di fora internasional, serta bagaimana Indonesia dan GNB dapat memajukan Global Governance yang berorientasikan pada kemitraan, dialog, dan kerja sama dalam menjawab tantangan dunia,” pungkas Roy dalam pemaparannya.

Sementara itu, Iyan Septiyana dan Defbry Margiansyah menyampaikan hasil kajiannya terhadap GNB dalam makalah bertajuk Institutional Power Games in the Non-Aligned Movement. Kajian itu menekankan tantangan GNB yang makin hari makin terjebak pada kontestasi kepentingan Great Powers. Alhasil, GNB lebih banyak disibukkan oleh isu internal. Proses institusionalisasi GNB pasca Perang Dingin belum sepenuhnya membawa GNB tampil sebagai sebuah pergerakan yang mewadahi kepentingan negara-negara anggotanya.

Peserta seminar mencapai sekira 100 orang. Sebagian besar di antaranya adalah mahasiswa program studi (prodi) Hubungan Internasional di beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung, yaitu prodi HI Universitas Jenderal Ahmad Yani, prodi HI Universitas Wanita Indonesia, prodi HI Universitas Katholik Parahyangan, dan prodi Sastra Perancis Universitas Padjadjaran.

Sesi diskusi berlangsung hangat. Tak kurang dari sepuluh pertanyaan dilontarkan peserta kepada para narasumber. Umumnya mereka mengkritisi peran GNB dalam berbagai isu keamanan terkini. Akan halnya peran dan kontribusi nyata Indonesia dalam GNB adalah pertanyaan yang paling banyak disampaikan.

Seminar berseri Update from the Foreign Ministry direncanakan menjadi program rutin Museum KAA. Setiap seminar akan mengupas topik-topik yang berbeda dengan narasumber para diplomat Kementerian Luar Negeri. (Sumber: Museum KAA)