MUSEUM KAA HEMBUSKAN SEMANGAT BAHARI DI UNPAD

IMG_3078

Kuliah Umum “Take Action – Save Nation” di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, Minggu, 25/08/2013. (Foto: @januar_WAY)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Museum KAA menghembuskan filosofi “Semangat Bahari” dalam Kuliah Umumbertajuk “TAKE ACTION – SAVE NATION” di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung pada hari Minggu, 25/08/2013 di Gedung IKA Unpad Bandung.

Kuliah umum ini, yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Bisnis (HimEB), merupakan puncak dari rangkaian acara selama sepekan dalam Pembekalan Mahasiswa Baru TA 2013 di Unpad.

Ghitha Aspari, Ketua Pelaksana Acara “TAKE ACTION – SAVE NATION”, dalam sambutannya di hadapan sekitar lima ratus mahasiswa baru mengatakan bahwa melalui kuliah umum ini diharapkan Museum KAA dapat memberikan gambaran perspektif baru terhadap nasionalisme kepada mahasiswa.

Museum KAA kami anggap sangat tepat untuk sharing tentang sejarah Indonesia yang belum banyak orang lain ketahui,” ujar Ghitha.

Menurut Ghitha, kuliah umum ini bertujuan agar peserta terpacu untuk mencari informasi lebih dalam tentang Indonesia dan kembali sadar akan rasa cinta tanah air.

Nasionalisme tidak melulu jadul dan urusan orang tua. Kami mendorong agar peserta kelak dapat aktif mengikuti dan mendukung kegiatan Museum KAA,” pungkas Ghitha.

Selama hampir sejam, Public Educator Museum KAA, Desmond S. Andrian menghadirkan kembali kenyataan memori kolektif bangsa Indonesia yang nyaris punah.

Bahari, dalam Bahasa Melayu Kuno merujuk pada kenangan “Masa Lalu”. Masa ketika leluhur Nusantara ditakdirkan menjadi penjelajah ulung yang mengarungi dan menguasai samudera,” ujar Desmond.

Dalam paparannya, Desmond melanjutkan bahwa leluhur Nusantara paham betul pada takdirnya yang hidup di benua maritim dengan untaian kepulauan. Konsepsi laut sebagai penghubung, bukan sebagai pemisah, telah hadir dalam perspektif filosofis bangsa Nusantara sejak dahulu kala.

Kitalah yang memulai globalisasi purba! Berbekal ilmu navigasi dan teknologi kapal bercadik serta keyakinan bahwa bumi itu bulat, leluhur Nusantara menjelajahi samudera dan berinteraksi dengan berbagai peradaban besar di dunia jauh sebelum Ekspedisi Dunia Baru dimulai,” papar Desmond.

Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, Desmond mendeskripsikan kemunduran Kebudayaan Bahari di Nusantara dalam konteks “Arus Balik”. Ekspedisi Jalur Sutra lintas samudera satu demi satu rontok dan bangsa Asia-Afrika secara perlahan terbenam dalam mimpi buruk kolonialisme.

Titik balik dari “Arus Balik” adalah lahirnya Semangat Bandung di KAA 1955. Sejak itu, kolonialisme diharamkan selamanya!” tutup Desmond. (sppnkaa/dsa)

Share