Museum KAA Jadi Tuan Rumah Pertemuan Mahasiswa Internasional

poster

BANDUNG, MUSEUM KAA – Kementerian Luar Negeri melalui UPT Museum KAA bekerja sama dengan Universitas Telkom Bandung menggelar acara bertajuk International Students Gathering (ISG) pada Selasa, 24/4/2018 di Ruang Pameran Tetap Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. ISG merupakan bagian dari rangkaian acara Peringatan 63 Tahun KAA di Museum KAA.

Acara dibuka oleh Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie. Selain itu, turut hadir pula Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak dan Rektor Universitas Telkom Professor Mochamad Ashari. Keduanya berbicara soal Indonesia-Africa Forum (IAF) dalam sesi pemaparan.

Dalam sambutannya Kepala Museum KAA mengatakan, “Pelaksanaan Indonesia–Africa Forum merupakan wujud nyata Pemerintah Indonesia atas pengimplementasian Nilai-nilai KAA dan Semangat Bandung.

Direktur Afrika Daniel Tumpal Sumurung Simanjuntak berujar, “Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam hubungan ekonomi dengan negara-negara Afrika.” Sedangkan, Rektor Universitas Telkom Professor Mochamad Ashari menyoroti soal kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Afrika. “Kami berharap akan lebih banyak mahasiswa Afrika yang bersekolah di Indonesia, termasuk di Universitas Telkom,” ucapnya.

112A8642Dari kiri ke kanan:  Project Officer ISG Teguh Adhi Primasanto bertindak selaku moderator bagi Direktur Afrika Daniel Tumpal Sumurung Simanjuntak dan Rektor Universitas Telkom Professor Mochamad Ashari dalam acara diskusi ISG pada Selasa, 24/4/2018. (Sumber Foto: Dok. MKAA)

Sesi pemaparan diikuti sesi diskusi. Puncaknya adalah ramah tamah antar mahasiswa Asia dan Afrika. Tujuannya tak lain adalah agar para peserta yang berasal dari berbagai negara dan universitas berkesempatan untuk bertukar informasi dan membangun jejaring kerja.

Dalam sesi diskusi sejumlah mahasiswa asal Afrika menyampaikan sejumlah masukan konstruktif terhadap kerjasama Indonesia-Afrika di masa depan. Di antaranya adalah sektor-sektor yang sekiranya memiliki potensi besar untuk dikerjasamakan, terutama sektor ekonomi yang memberdayakan generasi muda mengingat benua Afrika memiliki demografi penduduk yang didominasi usia produktif. Salah seorang mahasiswa asal Afrika bertutur, “Kami ingin belajar dari perusahaan-perusahaan start-up yang ada di Indonesia.

Usai acara diskusi, puluhan mahasiswa internasional yang dibalut kaos putih dengan tulisan International Students Gathering: Indonesia-Africa Forum di bagian dada itu berbaur sambil berkenalan satu sama lain. Pasalnya tak sedikit pula di antara mereka yang baru pertama kali bertemu. Namun, sebagian besar di antaranya berasal dari negara-negara di kawasan Afrika dan Asia.

Project officer acara Teguh Adhi Primasanto saat diwawancara mengungkapkan alasan pemilihan topik. Menurutnya, pengelola Museum KAA sengaja memilih topik IAF pada acara ISG kali ini lantaran sejalan dengan visi perhelatan IAF yang telah digelar pada tanggal 10-11 April 2018 di Bali. Dengan demikian, imbuhnya, melalui acara ISG pengelola Museum KAA hendak memberikan kesempatan bagi para mahasiswa asing, khususnya mahasiswa asal Afrika yang sedang menempuh studi di Indonesia untuk memperoleh perkembangan terkini soal hubungan kerja sama antara Indonesia dan negara-negara Afrika.

Berbeda dengan pelaksanaan ISG pada peringatan KAA tahun 2017, 150 peserta ISG pada tahun ini datang dari Bandung dan berbagai kota di luar Bandung. “Mereka ada yang khusus sengaja datang dari Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bogor,” ujarnya.

Senada dengan Teguh Adhi Primasanto, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menerangkan bahwa pihaknya telah rutin menggelar ISG sejak tahun 2016. ISG merupakan salah satu hasil kesepakatan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika yang dilaksanakan oleh Museum KAA pada tahun 2015. Ia menjelaskan, ISG diharapkan berperan sebagai forum komunikasi mahasiswa internasional yang tengah menempuh studi di Indonesia, khususnya di Kota Bandung.

112A8623Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan ISG pada Selasa, 24/4/2018. (Sumber Foto: Dok. MKAA)

ISG adalah bukti bahwa Nilai-nilai KAA masih lestari di kalangan generasi muda,” akunya. Pasalnya, menurutnya, ISG tak lepas dari warisan intelektual Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955 yang bertujuan untuk menciptakan sebuah platform kerja sama antar bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam berbagai bidang. Konsekuensinya, konferensi itu telah berhasil mendorong negara-negara Asia dan Afrika yang masih terjajah untuk bangkit meraih kemerdekaan dan memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri (self-determination).

Dampaknya, antara tahun 1960 hingga 1964 dekolonisasi merebak di Afrika. Alhasil, tercatat lahir tak kurang dari 34 negara baru merdeka di kawasan itu. Segera setelahnya, disusul kemunculan regionalisme di Afrika, yakni OAU sebagai cikal bakal AU di kemudian hari.

KAA melahirkan Sepuluh Prinsip Bandung atau populer sebagai Dasasila Bandung. Nilai-nilai, seperti kesetaraan, toleransi, kerja sama, dan hidup berdampingan secara damai adalah intisari dari Dasasila Bandung. Nilai-nilai itu hingga kini dalam hubungan internasional masih relevan.

Dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai itu tak hanya perlu terus dilestarikan tapi juga diterapkan sebagai panduan dalam membangun kerja sama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta menyentuh para pemangku kepentingannya, terutama generasi muda.

Sumber: Museum KAA