MUSEUM KAA MENJARING CALON PUBLIC EDUCATOR MUSEUM

pec-oprec

Suasana Volunteer Assessment PEC pada hari Sabtu, 31/08/2013 di Museum KAA. (Foto: @januar_WAY)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Public Educator Corps Sahabat Museum KAA berhasil menjaring dua puluh mahasiswa terbaik di Kota Bandung melalui “Museum Volunteer Open Recruitment Program”(Volunteer OpRec) yang digelar pada hari Sabtu, 31 Agustus 2013 di Museum KAA, Bandung.

Volunteer OpRec dikelola secara mandiri oleh tim relawan Sahabat Museum KAA yang tergabung dalam Public Educator Corps (PEC). Volunteer OpRec, yang secara resmi digulirkan PEC sejak akhir Juli 2013 melalui akun resminya @AsiAfricaPEC, diluar dugaan mampu menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.

Yasmin Nindya Chairunnisa, Chief Executive Officer PEC, menuturkan, “Kami benar-benar tak menyangka. Dalam waktu hanya sebulan, aplikasi calon relawan Sahabat Museum KAA melampaui target awal kami”.

Ini justru jadi tantangan. Kami dituntut jeli melihat calon relawan. Terutama, mereka yang paling kontributif bagi Edukasi Publik Museum KAA,” lanjut Yasmin.

Dalam paparan singkatnya di hadapan para calon relawan, Yasmin menegaskan bahwa Volunteer Assessment bukan bertujuan sebagai alat seleksi. Volunteer Assessment dibutuhkan untuk memetakan peluang kontribusi calon relawan. Dengan demikian, PEC kelak dapat memaksimalkan peran mereka di masyarakat.

Dalam sesi wawancara, Adisa Dini Anggraeni mengungkapkan motivasinya untuk bergabung dengan PEC, “Saya tertarik menjadi Public Educator karena panggilan jiwa”.

Adisa juga menambahkan bahwa edukasi sejarah bagi remaja dan usia dini hanya akan optimal bila disampaikan melalui cara-cara yang menyenangkan.

Peserta lain, Reiza Harits kepada Tim Pewawancara mengaku sangat menyukai sejarah, khususnya yang terkait Hubungan Internasional. Menurutnya, PEC menjadi pilihannya dalam menyalurkan ketertarikannya terhadap sejarah.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Museum KAA Thomas Ardian Siregar mengatakan bahwa Museum KAA akan membekali PEC dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang menunjang tugas mereka.

Selama dua hari, yaitu 14-15 September 2013, pembekalan teknis akan dilaksanakan bagi PEC, Administrator dan Benefaktor Sahabat Museum KAA serta para penanggung jawab klab-klab budaya Sahabat Museum KAA,” papar Thomas.

Thomas juga menegaskan bahwa konsep “Museum for All” dikembangkan secara bersama-sama antara Museum KAA, PEC dan Sahabat Museum KAA.

Ini tidak lain untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap museum. Mereka didorong tidak hanya cukup sebagai penikmat museum namun juga mampu berkontribusi aktif terhadap edukasi masyarakat melalui Museum KAA,” tutup Thomas.

PEC awalnya hadir sebagai sebuah program rintisan pada Desember 2011. Kala itu Sahabat Museum KAA berupaya mewadahi keinginan publik untuk turut mengembangkan edukasi publik di Museum KAA.

Suksesnya pelaksanaan “Bandung Historical Study Games” pada HUT ke-58 KAA 1955 Tahun 2013 menandai kiprah PEC dalam dunia edukasi museum di Kota Bandung. Selain itu, PEC juga secara aktif mendukung berbagai program edukasi publik Museum KAA, antara lain Bandung Spirit Summer Project 2013 dan FGD Bandung Spirit and its Relevance to ASEAN 2015. (sppnkaa/dsa)

Share