Penyandang Disabilitas Berlatih Menulis di Museum KAA

mhiDisabilitas berlatih menulis dalam acara Workshop Kelas Pelatihan Menulis Inspiratif di Museum KAA, Minggu (27/10/2019). (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Melawan keterbatasan dengan karya. Prinsip itu rupanya yang melatari 15 penyandang disabilitas bersemangat berlatih menulis dalam acara Workshop Kelas Pelatihan Menulis Inspiratif bertema ‘Menggapai Mimpi dan Masa Depan dalam Keterbatasan’ yang digelar di Museum KAA, Minggu (27/10/2019).

Dalam acara itu, peserta membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mulai berkarya. Didampingi dua mentor menulis Anna Farida dan Maria Lubis, mereka tekun berlatih menulis.

Kepada peserta, Anna Farida memperkenalkan pentingnya memahami metode menulis Free Writing dan Storytelling. Pasalnya, menurut Anna, dua metode ini cocok bagi penulis pemula. “Melalui metode ini (red-Free Writing), kita menulis tanpa tekanan, tanpa terhenti, tanpa mengoreksi, dan tanpa dinilai,” jelasnya.

Ia melanjutkan penjelasannya, metode lain yang layak dicoba bagi penulis pemula adalah metode Storytelling. “Dalam metode ini kita menulis mencurahkan semua gagasan melalui kisah, atau cerita dengan selepas mungkin,” terang Anna yang juga berprofesi sebagai editor selain penulis. 

Anna juga tak lupa mengingatkan peserta soal prinsip menulis. Baginya, menulis selain membangun relasi penulis dengan pembaca juga membangun diri sendiri.

Selingkung dengan Anna yang mendorong peserta terampil menulis, Maria Lubis mendampingi peserta belajar menyunting dalam menulis. Kepiawaian menyunting, menurutnya, tak lepas dari kaidah menulis yang mengacu pada Bahasa Indonesia yang baik dan benar. “(kaidah) sesuai dengan EYD atau saat ini disebut PUEBI (red-Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia),” paparnya.

Ia mencontohkan satu per satu kaidah dasar yang penting dalam menyunting seperti, penggunaan huruf kapital dan huruf miring, penulisan kata dasar dan imbuhan, cara pemenggalan kata, dan singkatan.

Puncaknya, peserta diberi kesempatan berlatih menulis. Kemudian, setiap peserta mempresentasikan hasil tulisannya kepada mentor. Selanjutnya, mentor menanggapi dan menyunting setiap tulisan.

Dalam acara itu, Kepala Museum KAA melalui Kepala Seksi Publikasi dan Promosi Nilai-nilai KAA Asep B. Gunawan menyampaikan, semangat hidup dan perjuangan disabilitas dalam menjalani keseharian merupakan inspirasi tersendiri. Sebab itu, ia mendorong agar semangat hidup dan kisah inspiratif itu dapat dibagikan melalui karya tulis.

Sebab, lanjutnya, karya tulis itu dapat menjadi penyemangat bukan saja bagi sesama disabilitas tapi juga pengingat untuk selalu hidup penuh dengan rasa syukur dan tidak mudah mengeluh.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Mata Hati Indonesia (YMHI) Ipan Hidayatulloh mengatakan, para disabilitas harus menulis sehingga menjadi catatan dalam sejarah kehidupan manusia. Ia mengingatkan, peradaban manusia ada setelah ditemukannya transkip atau bukti tertulis dari kehidupan manusia pada masa lampau. “Karya tulis para disabilitas yang ditulis saat ini akan menjadi kenangan di masa mendatang,” ujarnya Ipan yang juga seorang disabilitas netra itu. 

Karya tulis yang dihasilkan melalui workshop ini sesuai rencana akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Buku itu yang mengabadikan semua kegiatan disabilitas kelak dibagikan ke publik supaya publik menyadari keberadapan disabilitas. 

Acara workshop menulis ini digelar sebagai hasil kerja sama Museum KAA dan YMHI. Sejak YMHI didirikan pada tahun 2006, Museum KAA dan YMHI telah menggulirkan berbagai program kerja sama yang mendorong peningkatan keterampilan disabilitas.

Sumber: Museum KAA

Share