Peringatan KAA, Ajang ‘Temu Kangen’ Saksi Sejarah KAA 1955

IMG_1609

Para saksi sejarah dan keluarga tokoh KAA berpose bersama di Ruang Utama Gedung Merdeka dalam acara Jamuan Teh Petang pada Rabu (20/4/2017) petang. (Sumber Foto: Dokumentasi Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAAPuluhan saksi sejarah KAA dan keluarga tokoh KAA hadir dalam temu kangen bertajuk Bincang-bincang bersama Saksi Sejarah KAA, yang digelar di Ruang Utama Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung, Kamis (20/4/2017) petang. Acara ini dilaksanakan Museum KAA dalam rangkaian Peringatan 62 Tahun KAA.

Temu kangen saksi sejarah KAA yang digelar saban tahun itu dihadiri, antara lain perwakilan keluarga Ali Sastroamidjojo (Ketua KAA), Roeslan Abdulgani (Sekretaris Jenderal KAA), dan Sanusi Hardjadinata (Ketua Komite Lokal KAA).

Selain itu, sejumlah saksi sejarah KAA turut pula hadir, seperti Wardiman Djojonegoro (LO Delegasi India), Romlah Rustandi Martakusumah (LO Istri Delegasi), Inen Rusnan (juru foto), H.Yoyo Priatna (LO Delegasi Mesir), Abah Landung (LO Kendaraan Delegasi), Irawati Durban (penari pada acara kesenian), dan Demin Shen (LO Delegasi RRT) serta Kemal Asmarahadi (cucu Inggit Garnasih).

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menyatakan, acara ini merupakan inisiatif Museum KAA untuk mempertemukan para saksi sejarah KAA 1955 dan generasi muda dari berbagai kalangan di Kota Bandung. “KAA menjadi tonggak keberhasilan diplomasi Indonesia sekaligus kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dunia. Di balik itu ada banyak pihak yang bekerja keras mewujudkan kerbehasilan pelaksanaan KAA. Hari ini kami kembali ingin mempererat tali silaturahmi antara para saksi sejarah KAA dan generasi muda. Tak lain ini bertujuan agar semangat para saksi sejarah dapat diwariskan kepada generasi muda,” ujar Meinarti.

Sementara itu, Rudiono Iskandar Abdulgani yang hadir mewakili Keluarga Besar Roeslan Abdulgani saat memberikan sambutan dalam sesi Tribute to Cak Roes mengharapkan agar generasi muda senantiasa bersemangat dan terus membuktikan bahwa Semangat Bandung belum mati. “Cak Roes selalu berujar bahwa Semangat Bandung belumlah mati. Mari kita bersama-sama membuktikan bahwa semangat itu tetap hidup dan menyala-nyala,” harapnya.

Generasi tua adalah ibarat matahari yang akan terbenam, lanjut Rudiono menirukan petuah Cak Roes, sedangkan generasi muda adalah ibarat matahari yang sedang terbit. Adalah tanggung jawab kita sebagai generasi pendahulu untuk terus merawat Semangat Bandung untuk generasi muda kita,” pungkasnya.

Acara ini diikuti sesi tanya jawab antara para saksi sejarah dan anggota Sahabat Museum KAA. Wardiman Djojonegoro dalam sesi tanya jawab menuturkan pengalamannya sebagai LO delegasi India. Menurutnya, pengalaman itu kini mengajarkan pentingnya sejarah. “Saya juga terlibat dalam proses pengusulan arsip KAA sebagai bagian Memori Dunia. Saya berkunjung ke empat negara sponsor KAA. Bahkan, juga hingga ke Aljazair. Ini menyadarkan kita betapa penting arsip bagi catatan sejarah KAA, khususnya bagi Indonesia,urainya.

Selain itu, lagu-lagu bernafas kebangsaan telah turut pula menghangatkan suasana temu kangen itu. Adew Habtsa, Ferry Curtis, dan Keroncongers De Oemar Bakri bergantian melantunkan tembang-tembang unggulannya.

Sumber: Museum KAA