Peringati Sumpah Pemuda, 100 Siswa SD Baca Ikrar di Museum KAA

edit 2

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie berpose bersama seratus siswa SD usia kelas 4 hingga 6 di Kota Bandung usai bersama-sama mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda pada Sabtu, (28/10) di Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Seratus siswa SD mengucap ikrar Sumpah Pemuda pada Sabtu, (28/10) di Museum KAA-Gedung Merdeka Jalan  Asia Afrika No.65 Bandung. Mereka adalah para siswa usia SD kelas 4 hingga 6 di Kota Bandung yang menjadi binaan Dompet Dhuafa Jawa Barat.

Seperti disampaikan Manajer Program Dompet Dhuafa Jawa Barat Sri Apriyanti di Bandung pada Rabu (25/10) pekan lalu, kunjungan ke Museum KAA itu dilaksanakan dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. “Kunjungan ke Museum KAA ini untuk peningkatan wawasan dan kecintaan anak dan pemuda Indonesia kepada Negara Indonesia. Selain itu, kunjungan ini dapat memberikan pengalaman baru bagi anak-anak Indonesia,” kata Sri Apriyanti.

Sementara itu Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie yang menyambut kedatangan para siswa itu mengaku bangga karena Museum KAA terpilih menjadi tempat ikrar Sumpah Pemuda. Sebab, pihaknya selama ini berkomitmen menyerukan Semangat Bandung yang telah mempersatukan bangsa Asia dan Afrika tak hanya di kalangan usia dewasa tapi juga di kalangan remaja dan usia dini.

Menurutnya, nilai-nilai semangat berani bersatu dan bekerja sama antar bangsa yang beragam itu adalah pokok Nilai-nilai KAA. Alhasil, dunia mencatat KAA sebagai sumbangsih terbesar bangsa Indonesia bagi perdamaian dunia. “Itu sebabnya kami di Museum KAA terus menggelorakan semangat berani bersatu dan bekerja sama terutama bagi kalangan generasi muda,” jelas Meinarti.

Usai mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda, rombongan siswa yang rerata mengaku pertama kali berkunjung ke Museum KAA itu mendapat penjelasan sejarah KAA. Edukator Museum KAA menjelaskan proses berdirinya Museum KAA dan menceritakan kembali peristiwa KAA.

Edukator mengajak siswa berkelana ke masa lalu lewat alat peraga koleksi, multimedia interaktif, dan diorama. Ada tujuh patung yang menggambarkan suasana sidang pembukaan KAA yang lengkap dengan latar belakang bendera duplikat negara-negara Asia dan Afrika.

Siswa juga diperlihatkan aneka koleksi Museum KAA yang digelar di Ruang Pameran Tetap antara lain koleksi tanda tangan delegasi, perangko bertema KAA, mesin tik wartawan peliput KAA, kamera milik Pusat Film Negara, dan berbagai dokumen penting tentang KAA. Ada juga kamera foto dan alat pencetak foto milik juru foto termuda di KAA Inen Rusnan.

Setelah berkeliling di Ruang Pameran Tetap, siswa melintasi lorong yang menghubungkan Ruang Pameran Tetap dan Ruang Utama Gedung Merdeka tempat berlangsung peristiwa sidang-sidang KAA. Di lorong itu siswa melihat alat peraga kisah sejarah kelahiran lambang negara Indonesia.

Di Ruang Utama Gedung Merdeka siswa dipersilahkan duduk di kursi para delegasi KAA sambil menyaksikan pemutaran film dokumenter bertajuk Kelahiran Semangat Bandung. Menutup rangkaian acara kunjungan, siswa berfoto bersama di depan tribun berlatar bendera seluruh negara Asia dan Afrika.

Sumber: Museum KAA