Ratusan Remaja Membaca Nyaring Buku ‘The Bandung Connection’ di Museum KAA

IMG-20191019-WA0023Ratusan anggota baru Sahabat Museum KAA tampak tekun membaca nyaring secara bergantian buku ‘The Bandung Connection’ di Galeri I Museum KAA, Sabtu (19/10/2019). (Foto: Dok. Klab Edukator)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Akhir pekan silam, Sabtu (19/10/2019) ada pemandangan tak lazim di Museum KAA. Ratusan remaja duduk lesehan sambil tekun memegang buku. Mulutnya berkomat-kamit membaca setiap untaian kata dan kalimat dalam buku bersampul merah. Mereka bergantian membaca nyaring buku itu. Sementara, yang lain dengan sabar mendengarkannya sambil memasati baris demi baris kalimat yang sedang dilafalkan.

Para remaja ini, anggota Sahabat Museum KAA (SMKAA) yang baru saja bergabung di bulan September silam. Sebagai warga baru, Museum KAA melalui pengelola SMKAA membekali mereka dengan Nilai-nilai KAA. Nilai ini diperkenalkan dengan metode ‘membaca nyaring’ atau kerap dikenal sebagai ‘tadarussan‘. Metode ini terbukti dianggap menyenangkan bagi sebagian besar yang pernah melakoninya di Museum KAA.

Dalam metode itu, Museum KAA sengaja memilihkan buku bertajuk The Bandung Connection sebagai bahan bacaan. Buku itu, yang merupakan buah karya Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani pada tahun 1980, sudah sejak tahun 2009 secara resmi digunakan Museum KAA sebagai rujukan upaya internalisasi Nilai-nilai KAA kepada publik, khususnya para anggota SMKAA dan peserta program internship Museum KAA.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menjelaskan, acara tadarussan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bimbingan dan edukasi Museum KAA. Bentuk ini sengaja dipilih bagi setiap anggota baru SMKAA lantaran selama ini dianggap menyenangkan dan efektif. “Terutama dalam menyampaikan pesan Nilai-nilai KAA kepada generasi muda yang kini sebagian besar terdiri atas generasi Z. Bentuk ini mendukung visi Museum KAA dalam melestarikan Nilai-nilai KAA,” jelasnya.

Ia pula menerangkan, tadarussan pertama kali diperkenalkan di Museum KAA pada tahun 2009 dalam kegiatan bedah buku yang dikelola komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC). Sejak itu, imbuhnya, model tadarussan buku The Bandung Connection dipertahankan sebagai tradisi rutin setiap tahun di Museum KAA untuk menyambut anggota baru SMKAA.

Di antara ratusan peserta tadarussan itu, Fitri yang tergabung sebagai anggota Klab Guriang SMKAA mengaku, melalui buku itu ia kini telah mengetahui sejarah KAA. “Itu (red - sejarah KAA) yang belum tentu dulu dipelajari di sekolah,” katanya.

Senada dengannya, Isyanti yang kini tercatat sebagai anggota Klab Edukator SMKAA mengungkapkan, acara tadarussan berlangsung menyenangkan. “Selain karena bisa bertemu kawan-kawan dari klab-klab lain, buku itu (redThe Bandung Connection) yang membahas esensi KAA ditulis seperti diary yang ditulis langsung oleh orang yang mengalaminya (red – peristiwa KAA). Terharu (lantaran) mengetahui perjuangan bangsa-bangsa lain selain bangsa Indonesia,” terangnya.

Buku The Bandung Connection, di mata Isyanti, adalah buku yang keren lantaran diarsipkan oleh orang yang langsung mengalami peristiwa KAA. Alhasil, imbuhnya, buku itu dapat mencegah pemalsuan sejarah KAA.

Demikian pula dengan Deka Rivaldi asal Klab Young Announcer SMKAA yang mengatakan, dirinya kini bisa lebih banyak mengetahui sejarah KAA berkat buku itu.

Koordinator SMKAA, Sagia Hutmair menjelaskan, acara tadarussan berlangsung selama dua hari mulai Sabtu, 19 hingga Minggu, 20 Oktober 2019. Acara itu, akunya, melibatkan 350 anggota baru SMKAA. “Usai tadarussan, kami menyediakan waktu untuk pembahasan sekaligus tanya jawab. Sesi ini penting untuk mengupas hal-hal yang mungkin belum dipahami mereka,” katanya.

Sumber: Museum KAA

Share