Rayakan Hari Jadi KAA, Ribuan Anak Senam Bersama

senam

Senam Anak Asia Afrika digelar di Kawasan Cikapundung Timur dalam rangkaian Peringatan 62 Tahun KAA pada Minggu (23/4/2017) pagi. (Sumber Foto: Dokumentasi Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Ribuan anak usia Sekolah Dasar melakukan senam bersama di kawasan Cikapundung Timur di sisi barat Museum KAA-Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung, Minggu (23/4/2017) pagi, untuk memperingati hari jadi ke-62 tahun KAA. Senam Anak Asia Afrika menjadi agenda rutin peringatan KAA setiap tahun.

Menurut Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, tercatat ada 1010 anak yang menghadiri acara senam massal di Museum KAA ini. Mereka datang dari berbagai sekolah dasar di Kota Bandung. Sebulan sebelumnya Museum KAA bekerja sama dengan Persani (red-Persatuan Senam Indonesia) Kota Bandung telah menyosialisasikan gerakan senam kepada guru perwakilan sekolah. Selanjutnya, para guru itu berlatih mempelajari gerakan senam bersama anak-anak di sekolah masing-masing.

Meinarti menambahkan, acara senam itu digelar sebagai media komunikasi Museum KAA untuk menyampaikan Nilai-nilai KAA kepada anak-anak. “Sisi afektif akan lebih menarik bagi anak-anak. Maka, aktifitas senam kami anggap lebih cocok sebagai teknik interpretasi koleksi museum,” kata Meinarti.

Meinarti mengungkapkan, gerakan senam sengaja dirancang ringan, sederhana, dan mudah namun tetap menyehatkan. “Gerakannya menyenangkan. Yang penting anak-anak ceria. Senam memiliki segudang manfaat bagi anak-anak. Untuk itu, kami mengajak anak-anak agar gemar berolah raga sejak usia dini.” ujarnya.

Memperkenalkan museum dan sejarah KAA kepada anak-anak, menurut Mei, sering mendapatkan tantangan tersendiri. Selain metode yang kurang tepat, ada anggapan sejarah KAA terlalu berat bagi anak-anak. Ditambah lagi anak-anak kini sangat dimanjakan oleh kehadiran gawai pintar. Alhasil, minat anak-anak terhadap sejarah, terutama peristiwa KAA perlu mendapat perhatian ekstra. Padahal, pengenalan sejarah KAA sejak usia dini sangat strategis untuk menanamkan nilai tolong-menolong, dan kebaikan.

“Usia dini adalah masa keemasan pendidikan budi pekerti bagi anak-anak masa depan Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, project officer acara senam Asep B. Gunawan mengaku, ada 47 sekolah yang mendaftar pada acara senam itu. Animo sekolah terhadap acara senam anak setiap tahun selalu membeludak. Sebab, senam anak à la Museum KAA itu punya gerakan-gerakan fun dan unik.

Di antara peserta ada juga peserta dari SLB (red-Sekolah Luar Biasa). Walau selalu membeludak, kami membatasi jumlah peserta. Ini semata demi keselamatan dan kenyamanan anak-anak berolahraga,” pungkasnya.