Sepanjang Tahun 2017, Museum KAA Gencarkan Sosialisasi Pesan Perdamaian KAA

infografisInfografis kaleidoskop program Museum KAA sepanjang tahun 2017. (HP)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Kendati sudah cukup dikenal sebagai salah satu museum di Indonesia yang menjaga, merawat, dan melestarikan pesan perdamaian KAA, dengan rerata jumlah pengunjung di atas 200 ribu setiap tahunnya, Museum KAA terus mengembangkan inovasi dalam hal pengembangan media dan sumber belajar agar lebih mangkus dan sangkil dalam mensosialisasikan pesan perdamaian KAA. Hal itu diungkapkan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie saat diwawancara pada Rabu, 27/12/2017 di Museum KAA-Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Sepanjang tahun 2017 saja, museum yang merupakan UPT di Kementerian Luar Negeri itu telah menggulirkan berbagai media belajar untuk mensosialisasikan pesan perdamaian KAA. Sosialisasi itu tak hanya pada pengunjung museum tapi juga masyarakat luas.

Para pengelola museum di bilangan Braga ini seolah tak kenal lelah berinovasi merancang museum sebagai sumber belajar. Lantaran, koleksi milik Museum KAA sarat akan pesan-pesan edukatif perdamaian. “Supaya museum kami tetap relevan sebagai sumber belajar, kami mengadaptasi lima hal ini, yakni manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan, dan aktivitas,” rinci Meinarti.

Media Belajar Informatif

Meinarti menuturkan, pihaknya berupaya meningkatkan kualitas pelayanan edukasi publik melalui sejumlah pelatihan karyawan. Di antaranya adalah pelatihan konservasi koleksi dua dimensi untuk pengelola koleksi, dan pendalaman konsep perdamaian KAA bagi para edukator. Selain itu, Museum KAA juga melibatkan relawan edukator Sahabat Museum KAA dan mahasiswa magang. Mereka sudah dipersiapkan melalui pelatihan khusus untuk memahami konsep perdamaian KAA dan mampu mentransfer Nilai-nilai KAA dengan mudah kepada publik.

“Kami juga sudah mempersiapkan sebuah video tentang KAA sebagai salah satu bahan belajar. (red-video) Dirancang  populer dan lebih singkat. (red-tujuan video) Untuk bahan belajar yang populer tentang perdamaian menurut KAA. Kami ingin memanfaatkan video ini sebagai materi pembelajaran KAA yang relevan dan fun,” katanya menjelaskan media belajar baru dari Museum KAA.

Selain itu, media belajar lain yang juga telah dipersiapkan pengelola Museum KAA adalah tur virtual daring. Pasalnya, pengalaman virtual terbukti mangkus mendorong kuriositas publik akan sejarah perdamaian KAA. “Ini (red-tur virtual) sebenarnya adalah upaya pembaharuan. Sebab, tautan tur virtual daring kami yang ada sekarang terakhir kali diperbaharui lima tahun lalu. Dengan ini (red-tur virtual) memungkinkan publik merasa seolah-olah berada di lokasi museum kami sebelum mereka tiba,” terangnya.

Demikian juga dengan unsur lingkungan museum. Pada paruh terakhir tahun 2017 pengelola museum yang pernah diganjar dua kali penghargaan Museum Menyenangkan ini mulai menerapkan sistem reservasi kunjungan daring. Alhasil, tiga prasyarat lingkungan museum sebagai media belajar, seperti atmosfir, pelayanan, dan pengalaman terpenuhi. Dengan begitu, kemudahan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung museum dalam mempelajari pesan perdamaian KAA dapat lebih terjamin. “Dampaknya sudah terasa. Kesan baik akan suasana museum sebagai tempat belajar yang asyik dan menyenangkan tentang perdamaian KAA terus berdatangan dari masyarakat. Salah satunya dari Raja dan Ratu Swedia yang pernah menyambangi museum kami di bulan Mei lalu,” tambahnya.

Meinarti melanjutkan, ruang pameran tetap Museum KAA juga telah diperkaya dengan sejumlah multimedia audiovisual. Kehadirannya bertujuan memudahkan pengunjung mengakses informasi secara mandiri pesan-pesan KAA. “Setiap multimedia didedikasikan demi kenyamanan pengunjung. Isinya secara berkala kami perbaharui agar tetap relevan,” ucapnya.

Aktivitas Belajar Menyenangkan

Sepanjang tahun 2017 pengelola Museum KAA menggelar aneka ragam aktivitas yang mendukung sosialisasi pesan perdamaian KAA. Upaya itu sejatinya bagian dari konsep participatory public Museum KAA sejak sewindu lalu. Pada semester pertama, serangkaian aktivitas edukasi seperti diskusi ilmiah, wisata museum tematik, pameran temporer, dan peringatan hari bersejarah telah digulirkan.

Misalnya, Peringatan Solidaritas Rakyat Amerika Latin, Afrika, dan Asia (Januari), Milangkala ke-6 Sahabat Museum KAA dan Jelajah Museum di Malam Hari (Februari), Pekan Literasi Asia Afrika (Maret), Peringatan 62 Tahun KAA (April), Pameran Museum Bersama di Jogjakarta dan Pameran Perpustakaan MKAA di Perpustakaan Nasional Jakarta (Mei), Peringatan Hari Pancasila dan diskusi ramadan bertajuk Etika Keprotokolan Negara (Juni), dan diskusi bertema Journey to West Java by Royal Members of Thailand (Juli).

Sedangkan pada semester kedua, telah pula digelar aktivitas serupa, seperti Upacara Bendera 72 Tahun Kemerdekaan (Agustus), seminar Updates from the Foreign Ministry bertajuk Peringatan Gerakan Nonblok (September), sosialisasi Nilai-nilai KAA di lima kota dan kabupaten di Jawa Barat (Oktober), seminar Updates from the Foreign Ministry bertajuk Bali Democracy Forum dan Jelajah Museum di Malam Hari (November).

Peran Sahabat Museum KAA

Meinarti juga menyinggung peran strategis SMKAA (red-Sahabat Museum KAA). Menurutnya, SMKAA telah aktif bermitra dengan Museum KAA dalam menyampaikan pesan perdamaian KAA kepada masyarakat. Ia merinci, di bulan Maret 2017 pengelola Sahabat Museum KAA merekrut 230 relawan yang dipersiapkan sebagai edukator Nilai-nilai KAA melalui Peringatan 62 Tahun KAA. Selanjutnya, pada bulan Agustus 2017 menyusul 215 relawan bergabung sebagai anggota baru SMKAA.

“Mereka tergabung di tiga belas klab belajar SMKAA. Setiap akhir pekan mereka meramaikan museum. Ini bukti museum jadi tempat yang menyenangkan untuk belajar dan berdiskusi bagi segala usia,” ungkapnya.

Sejumlah komunitas pegiat literasi film dan buku dalam naungan SMKAA, seperti komunitas film LayarKita dan komunitas buku Asian-African Reading Club di sepanjang tahun ini telah menggelar sedikitnya 48 sesi diskusi berseri dengan topik pesan perdamaian KAA. Sedangkan, komunitas epistemik FSAA (red-Forum Studi Asia Afrika) mengangkat tema Demokrasi dan Multikultural dalam 8 gelaran diskusi berseri di paruh terakhir tahun 2017. Tak ketinggalan pula dua komunitas mahasiswa internasional Asia Afrika, YAAA (red-Young African Ambassadors in Asia) dan ASAI (red-Asian Students Association in Indonesia) yang giat mengedukasi anggotanya agar mempelajari pesan perdamaian KAA.

Pemantauan dan Evaluasi

Meinarti membeberkan, pihaknya rutin memantau media belajar dan aktivitas belajar itu. Ini untuk memastikan keduanya jadi sumber belajar yang mudah bagi masyarakat untuk memahami pesan perdamaian KAA. “Kami memantau terus proses dan keluaran keduanya (red-media belajar dan aktivitas belajar),” terangnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan, data dan informasi hasil pemantauan dievaluasi. Ada sejumlah indikator untuk evaluasi itu, seperti jangkauan, kecepatan, dan jumlah informasi. Selainnya, masih ada dua indikator pendukung lainnya, yakni akses dan kesesuaian informasi. Indikator terakhir adalah motivasi untuk mengetahui dampaknya terhadap pengunjung museum. “Hasil pemantauan dan evaluasi kami jadikan rujukan solusi, rekomendasi dan perbaikan di masa depan,” ujarnya.

Di penghujung wawancara, Meinarti yang belum genap setahun menjadi nahkoda Museum KAA ini mengakui, semua aktifitas itu dapat berjalan lancar tak luput dari dukungan dan kerja sama dari berbagai unsur, termasuk pemerintah, swasta, komunitas, dan lapisan masyarakat. “Kami mengapresiasi semua bentuk dukungan kerja sama yang telah terjalin baik selama ini antara Museum KAA dan banyak pihak. Semoga tetap berlanjut di masa depan. Ini semua demi promosi pesan perdamaian KAA sebagai kontribusi nyata Indonesia bagi perdamaian dunia,” pungkasnya mengakhiri wawancara.

Sumber: Museum KAA