Sewindu SMKAA, Kepala Museum KAA Ingatkan Pentingnya Pancasila

1Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie berfoto bersama anggota Sahabat Museum KAA dalam acara Milangkala Sewindu Sahabat Museum KAA Sabtu, 23/2/2019 di Selasar Timur Museum KAA. (Sumber Foto: Dok. MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie berharap agar nilai-nilai Pancasila, terutama prinsip gotong royong dapat terus mewarnai setiap derap langkah Sahabat Museum KAA. Hal itu ia sampaikan pada acara peringatan ke-8 tahun Sahabat Museum KAA (SMKAA) yang digelar Sabtu, (23/2/2019) di Selasar Timur Museum KAA di bilangan Braga Kota Bandung.

Sebab, menurutnya, prinsip ini sesuai dengan tujuan pembentukan awal SMKAA. Apalagi SMKAA diresmikan bertepatan dengan peringatan hari lahir lambang negara Republik Indonesia Elang Rajawali Garuda Pancasila delapan tahun silam di Museum KAA Jumat, (11/2/2011).

Sejak itu, ia menambahkan, pangkalan data relawan Sahabat Museum KAA mencatat hingga tahun 2018 Sahabat Museum KAA telah merekrut lebih dari 2000 relawan. Dari tahun ke tahun jumlah relawan cenderung meningkat. Mereka beragam mulai dari usia hingga profesi. Setiap relawan berkontribusi nyata mendukung edukasi publik Museum KAA.

Dalam sewindu ini sudah banyak prestasi Museum KAA lantaran bersinergi dengan Sahabat Museum KAA. Semoga ini dapat terus berlanjut. Terutama, dalam bermitra dengan kami (red-Museum KAA) dalam meletarikan Nilai-nilai KAA,“ katanya sambil disambut tepuk tangan meriah ratusan anggota Sahabat Museum KAA yang memadati Selasar Timur.

Selanjutnya, diusianya yang semakin matang, Sahabat Museum KAA ia harapkan sudah semestinya semakin bersahabat, semakin bermanfaat, dan berdikari. Tiga kata ini lahir sebagai moto Sahabat Museum KAA sejak sewindu silam. Moto ini telah memelopori perjalanan sewindu Sahabat Museum KAA.

Menyoal berdikari, ia mengatakan, “Kami mendorong agar Sahabat Museum KAA bersama-sama dapat mewujudkan berdirinya koperasi. Dengan demikian, Sahabat Museum KAA yang berdikari bukan lagi angan-angan.”

Acara dilanjutkan dengan sesi pemotongan tumpeng dan panggung milangkala. Sejumlah penampil menyemarakkan panggung milangkala petang itu.

Siswa-siwi Sakola Ra’jat Iboe Inggit Garnasih menampilkan dua tari, yaitu tari nama anggota tubuh dalam Bahasa Belanda dan tari Ganefo. Gerakan tari Ganefo sendiri dirancang menyesuaikan pada tema Ganefo yang mengambarkan persatuan, solidaritas, dan persaudaraan.

3Edukator Museum KAA Wisnu Azi Firdaus sekaligus pendiri Klab Bahasa dan Budaya Timur Tengah Sahabat Museum KAA sukses melantunkan irama padang pasir sehingga menghangatkan suasana Selasar Timur Museum KAA yang tengah dirundung udara dingin usai hujan deras mengguyur.

2Irama keroncong menyusul kemudian. Seolah tak mau kalah, Klab Angklung Guriang Sahabat Museum KAA bersama seluruh anggotanya yang berjumlah 25 orang, dengan angklung di tangan masing-masing dan dibalut atasan kemeja putih dan bawahan hitam kompak memainkan nada-nada harmoni yang mengesankan.

4Ibu Mimin Darmiati (55), orang tua dari Koordinator Klab Angklung Guriang Tia Gina Sakinah petang itu sengaja jauh-jauh datang ke Museum KAA dari kawasan Gunung Manglayang. Ia mengaku senang dengan kegiatan positif putrinya di Museum KAA.

Semoga Klab Angklung Sahabat Museum KAA makin maju,” ujarnya saat diwawancara pranatacara asal Klab Young Announcer Sahabat Museum KAA Revy.

5Di ujung acara, dengan iringan gitar akustik khas Adew Habsta menggeberak panggung. Melalui lirik-lirik lagu baladanya, ia berpesan agar cita-cita kesetiakawanan rakyat Asia Afrika harus terus hidup dan menghidupi relung hati generasi penerus bangsa.

Sumber: Museum KAA

Share