Siapa Sebenarnya Utusan Afrika Selatan di KAA 1955?

BANDUNG, MUSEUM KAA – Liberia, Gold Coast (kini menjadi Ghana), Sudan, Ethiopia, Libya, dan Mesir resmi hadir di KAA 1955. Panitia KAA 1955 yang mengundang mereka. Suara rakyat Afrika terdengar nyaring di KAA 1955 melalui mereka.

Kehadiran negara-negara Afrika itu adalah sebagai peserta penuh, bukan peninjau. Sebab, panitia KAA 1955 punya dua syarat untuk negara peserta. Dua syarat itu adalah berpemerintahan sendiri dan berdaulat. Syarat-syarat itu diputuskan lima perdana menteri sponsor KAA 1955 di Konferensi Bogor pada Desember 1954.

Sebenarnya panitia KAA kala itu turut pula mengundang Federasi Afrika Tengah. Akan tetapi, sayangnya negara di Afrika Sub Sahara ini batal hadir lantaran pemerintahnya menganggap tidak tepat hadir di KAA.

Sejak awal Federasi Afrika Tengah memang diragukan hadir. Mengingat di negara itu masih berlaku praktik diskriminasi rasial. Namun, India – dalam Konferensi Bogor yang merumuskan daftar negara peserta KAA – berpendapat lain. Menurut India, di Federasi Afrika Tengah ada sekitar 50.000 warga mereka. Selain itu, India juga telah memiliki perwakilan diplomatik di sana.

Akibat praktik diskriminasi rasial juga, panitia KAA 1955 memutuskan tidak mengundang Afrika Selatan meskipun negara ini sebenarnya saat itu telah memenuhi syarat. Keputusan itu ternyata tak membuat surut niat dua aktivis Afrika Selatan. Moses Kotane dan Ismail Ahmed Maulvi Cachalia atau kerap disapa Cachalia bertekad pergi ke Bandung. Dalam sejarah KAA, dua nama ini kerap disandingkan dengan Lakhdar Brahimi dari Aljazair, Uskup Makarios dari Siprus, dan Mufti Besar Palestina Husein El Amini.

Selama sidang KAA, dua peninjau Afrika Selatan itu sangat aktif. Mereka lebih banyak berada di Gedung Dwi Warna di Jalan Diponegoro. Sebab, Gedung Dwi Warna adalah tempat sidang tiga komite KAA, yakni Komite Politik, Komite Ekonomi, dan Komite Kebudayaan. Dalam sidang-sidang terbuka Komite Politik, Moses Kotane dan Cachalia rajin hadir. Pasalnya, salah satu agenda Komite Politik KAA adalah HAM. Ini relevan dengan cita-cita perjuangan mereka di Afrika Selatan untuk menentang praktik Apartheid yang bertentangan dengan prinsip HAM seperti yang termuat dalam Piagam PBB.

Dukungan KAA atas perjuangan rakyat Afrika Selatan tercermin pada Komunike Akhir KAA. Di bagian ketiga komunike itu, ada pernyataan dukungan terhadap HAM. Dukungan itu berjudul “HAM dan Hak Menentukan Nasib Sendiri”. Isinya terdiri atas dua butir hasil pembahasan Komite Politik KAA.

Pertama, KAA menyokong sepenuhnya prinsip dasar HAM sesuai Piagam PBB. Berkenaan itu, KAA juga memberi dukungan atas hak menentukan nasib sendiri seperti termuat dalam Piagam PBB. Sebab, hak menentukan nasib sendiri adalah syarat perdana supaya hak-hak dasar manusia dapat dinikmati seluruhnya.

Kedua, KAA menyesalkan politik diskriminasi rasial, khususnya di Afrika. KAA menyatakan simpati yang besar dan sokongan penuh atas sikap gagah berani dari korban diskriminasi rasial, terutama bangsa Afrika, India, dan Pakistan di Afrika Selatan. Terakhir, KAA menegaskan tekad bulat bangsa Asia Afrika untuk menghapus setiap jejak rasialisme.

Selain peninjau Afrika Selatan, turut hadir pula peninjau dari Palestina, Siprus, Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Roeslan Abdulgani, dalam buku The Bandung Connection, menjuluki para peninjau itu sebagai “penyelundup kemerdekaan”. Di mata kaum kolonialis dan imperialis, mereka dianggap telah menyelundupkan spirit Bandung yang menyuarakan kemerdekaan di seantero dunia.

Sumber: Museum KAA

Share