TALKSHOW RAMADHAN IN EGYPT: “SITUASI UMUM MESIR PASCA REVOLUSI 2011”

IMG_1332

 

Tampak dari kiri ke kanan : Dirjen IDP Kemlu A.M. Fachir, Duta Besar Mesir Bahaa El Deen Desouky, dan Dr. Teuku Rezasyah dalam talkshow “Situasi Umum Mesir Pasca Revolusi 2011” (Foto: @januarWAY)

 

BANDUNG, MUSEUM KAA – “Situasi Umum Mesir Pasca Revolusi 2011”, sebuah talkshow dalam rangkaian acara pembukaan Ramadhan in Egypt sukses digelar di Museum KAA pada Kamis, 18 Juli 2013. Talkshow, yang dimoderatori oleh Teuku Rezasyah, menghadirkan Duta Besar Mesir Bahaa El Deen Desouky dan Dirjen IDP Kemlu A.M. Fachir dan mampu menyedot pengunjung tak kurang dari dua ratus orang.

Dalam sambutannya, Kepala Museum KAA Thomas Ardian Siregar mengatakan bahwa Ramadhan in Egypt merupakan salah satu program edukasi publik unggulan Museum KAA dan telah sukses digelar di Museum KAA sejak 2010.

Senada dengan Thomas, Sesditjen IDP Kemlu, Diah Wulandari M. Rubianto dalam pidato persemian acara Ramadhan in Egypt mengatakan bahwa Kemlu sangat mendukung acara Ramadhan in Egypt yang menampilkan aspek budaya untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Mesir.

Diah juga melanjutkan bahwa Indonesia dan Mesir memiliki banyak kesamaan pandangan dan selalu berusaha menjaga hubungan yang harmonis.

Selama dua jam, peserta talkshow berkesempatan memperoleh paparan apik yang sarat akan informasi terkini seputar “Situasi Umum Mesir Pasca Revolusi 2011”.

Duta Besar Mesir Bahaa El Deen Desouky secara runtun membeberkan peristiwa Revolusi Mesir.

Mesir kini dalam keadaan yang sangat tak menentu. Meskipun berat dan menjadi tantangan tersendiri, kami tengah menjalankan sebuah roadmap menuju tercapainya resolusi damai yang dinantikan banyak pihak di Mesir,” tukas Sang Dubes Mesir itu.

Ia juga menyinggung perlunya Mesir menimba pengalaman dari Indonesia yang pernah mengalami dan berhasil melewati stuasi serupa dalam masa transisi demokrasi.

Sementara itu, Dirjen IDP Kemlu A.M. Fachir mengakui adanya perbedaan karakteristik antara Indonesia dan Mesir di masa transisi.

A.M. Fachir yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir itu memandang Indonesia lebih beruntung karena memiliki beberapa faktor determinan, antara lain kehadiran tokoh panutan nasional dan masyarakat madani yang mampu meredam situasi saat itu dan Pancasila, sebagai pemersatu bangsa.

Menanggapi pernyataan Dubes Mesir tentang perlunya Mesir “berguru” kepada Indonesia, A.M. Fachir melihat fungsi penting Bali Democracy Forum (BDF)sebagai wadah pertukaran ilmu dan pengalaman tentang nilai-nilai demokrasi.

Tiga hal penting bagi penerapan demokrasi, yaitu demokrasi yang berdasarkan pada homeground, inklusif, dan menghargai pluralisme,” kata Fachir.

Dalam sesi tanya jawab, sebuah pertanyaan yang dilontarkan Dina Y. Sulaeman (Associate Researcher pada Global Future Institute) tentang peluang tercapainya rekonsiliasi di Mesir ditanggapi secara positif oleh Dubes Mesir.

Rekonsiliasi sedang diperjuangkan terus menerus di negeri kami. Secara bertahap, kami membangun kepercayaan di berbagai pihak yang sedang berseteru,” jawab Bahaa El Deen Desouky.

Pertanyaan Iska (mahasiswa UPI Bandung) tentang kemungkinan Mesir untuk menerima solusi damai pihak asing mengingatkan A.M. Fachir pada skema Friends of Egypt yang pernah ditolak rakyat Mesir.

We are Egyptians. We are not a failure country. We are proud of our country,” demikian Fachir menirukan tanggapan rakyat Mesir saat itu.

Sebagai puncak acara, Duta Besar Mesir Bahaa El Deen Desouky dan Dirjen IDP Kemlu A.M. Fachir serta Kepala Museum KAA secara bersama-sama meresmikan pameran Mesir, Negeri 1000 Menara di Galeri I Museum KAA.

Pameran berlangsung dari tanggal 17 s.d. 07 Agustus 2013. Masyarakat dapat mengunjungi secara leluasa pameran ini pada jam pelayanan museum di bulan Ramadhan, yaitu Senin (libur), Selasa s.d. Kamis (08.00-15.00WIB), dan Jumat (14.00-14.30WIB) serta Sabtu s.d. Minggu (08.00-15.00WIB). (sppnkaa/dsa

Share