TALKSHOW “TOPENG: PERWUJUDAN BUDAYA ASIA AFRIKA”

suasana-talkshow-museum-kaa

 Talkshow “Topeng: Perwujudan Budaya Asia Afrika” di Museum KAA, Minggu, 09/06/2013 (Photo: @JanuarWAY)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Talkshow “Topeng: Perwujudan Budaya Asia Afrika” sukses digelar di Museum KAA Bandung Minggu, 09/06/2013. Herry Dim tampil piawai memoderatori jalannya talkshow yang menghadirkan para pakar topeng, yaitu Endo Suganda (Indonesia) dan Soei Ogura (Jepang). Selama tiga jam pengunjung disuguhi pembicaraan seru seputar sejarah dan seni topeng. Banyak hal baru dan menarik yang menyingkap tabir misteri topeng di kebudayaan besar Nusantara dan Asia Timur diulas dengan gamblang oleh para narasumber. Talkshow ini menandai puncak acara rangkaian Pameran Kolaborasi Budaya Jepang-Indonesia (04-09 Juni 2013).

Topeng Emas yang pernah ditemukan di salah satu wilayah Nusantara membuktikan kehadiran topeng di Nusantara sejak 2500 tahun yang lalu. Topeng berkembang dari masa ke masa. Namun, kenyataan yang dihadapi di Bandung saat ini adalah ketika seorang penari topeng tidak bisa menari lagi karena para penari pengiringnya sudah tidak ada,” papar Endo Suanda yang meraih gelar doktor di bidang etnomusikologi dari Universitas Washington, Amerika Serikat (1987-1991).

Senada dengan Endo, Ogura Soei dalam paparannya mengakui bahwa Topeng Noh mulai dikembangkan di Jepang di Era Muromachi pada tahun 1300-an. Sedangkan, topeng di Indonesia sudah dikembangkan jauh sebelum masa itu dan hal tersebut tentu saja sangat menakjubkan.

Topeng Noh dilestarikan dan dilindungi atas perintah Kamisama (dewa). Bila Topeng Noh hilang, maka akan hilang pula identitas. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan memperkenalkan topeng kepada masyarakat di Jepang ditempuh dengan cara melibatkan masyarakat itu sendiri, lanjut Ogura.

Dalam sesi diskusi yang menarik, Tobing, Jr. (Ketua Komunitas Film LayarKita) menyoroti asal mula sejarah topeng di Indonesia dan Jepang, terutama perkembangan topeng di masa keemasan Nusantara.

Sementara itu, E.S. Edos (Koordinator Klab Menggambar Sahabat Museum KAA) yang juga pendiri Galeri Seni BerAnda di bilangan Dago Bandung, sangat mengapresiasi hadirnya pameran seni di Museum KAA dan berharap ke depannya segera hadir Museum Seni di Kota Bandung untuk mendukung upaya pelestarian seni dan budaya.

Museum Umenosato Noh-Mask membuat khusus sebuah topeng berjenis Noh Mask dalam rangka Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-58, Kamis (18/4/2013). Usai pembukaan Peringatan KAA ke-58 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Abdurrahman Mochammad Fachir menerima langsung penyerahan topeng dari Ogura Soei.

Museum Umenosato Noh-Mask Jepang direncanakan akan menggelar kembali pameran serupa pada bulan Oktober 2013 di Jakarta.

Peradaban besar di Asia dan Afrika, yang mempunyai dasar rohani yang universal, memperlihatkan betapa kayanya akan kebudayaan topeng.

Misalnya, topeng telah hadir sebagai bagian dari upacara keagamaan di Afrika. Di Mesir, topeng dipakai pada upacara pemakaman. Sementara itu, kebudayaan Jepang dan China serta beberapa wilayah Asia lainnya juga memiliki kebudayaan topeng.

Pameran Kolaborasi Budaya Indonesia-Jepang yang digelar di Museum KAA selama sepekan (04-09 Juni 2013) ditutup secara resmi oleh Kepala Museum KAA Thomas Ardian Siregar pada hari Minggu, 09/06/2013.

Museum KAA dan Museum Umenosato Noh-Mask telah mencapai sinergisitas dan kolaborasi yang memuaskan dalam bidang kebudayaan. Semoga kerja sama yang baik ini dapat berkesinambungan di masa depan,” pungkas Thomas. (sppnkaa/dsa)