Ternyata Ini Rahasia Supaya Buku Awet

konservasi-kertasPeserta bengkel kerja Konservasi Koleksi dan Perpustakaan tengah berlatih teknik konservasi kertas dipandu narasumber Dra. Made Ayu Wirawati, M.I.Kom, Senin (4/11/2019). (Foto: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Punya buku kesayangan tapi bingung merawatnya supaya awet? Dra. Made Ayu Wirawati, M.I.Kom membagikan tips merawat buku supaya awet dan tahan lama dalam acara bengkel kerja bertajuk Konservasi Koleksi dan Perpustakaan yang digelar Museum KAA, Senin (4/11/2019) di Hotel Sahid Skyland City Jatinangor.

Menurut Kasubdit Perawatan dan Perbaikan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI itu, ada beberapa hal sederhana yang wajib diketahui. Misalnya, buku sebaiknya tidak dibungkus dengan kertas coklat lantaran bersifat asam. Dalam jangka panjang sifat asam itu kelak turut mempengaruhi kualitas kertas buku.

Selain itu, sifat asam juga bisa timbul dari faktor lain. Ia mencontohkan, buku dengan kertas buram berpeluang mengandung kadar asam yang tinggi. “Stabilo dan lem juga tidak baik bagi buku karena cenderung asam,” imbuhnya.

Perilaku pembaca juga, imbuhnya, turut menyumbang panjang pendeknya usia buku. Ia menghimbau untuk menghindari kebiasaan melipat halaman buku dan membuka halaman buku dengan air liur lantaran kedua perilaku itu menyebabkan usia buku menjadi rentan.

Perilaku lain, yang ia singgung berbahaya bagi buku, adalah penggunaan staples, selotip, dan karet gelang. Untuk itu, ia menyarankan, jika terpaksa, ketiga bahan itu bisa digantikan dengan yang berbahan plastik.

Jika buku sudah kadung lembab, ia mendorong agar buku itu segera dijemur hingga kering di bawah sinar matahari.

konservasi-kertas2Dra. Made Ayu Wirawati, M.I.Kom menjelaskan berbagai teknik konservasi koleksi dua dimensi, Senin (4/11/2019). (Foto: Museum KAA)

Salah seorang peserta acara bengkel kerja, Diva (18) mengaku senang mengikuti acara itu. Menurutnya, sebagai mahasiswi baru di Prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dirinya kini mengetahui cara merawat buku. “Bermanfaat banget dan saya jadi paham cara menjaga buku,” ucap Diva.

Pengakuan serupa juga datang dari Hikmah (20). Mahasiswa semester V Prodi Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Nusantara itu mengungkapkan, sebagian besar materi yang disajikan mendukungnya memahami ilmu yang sedang ia pelajari di kampus, terutama soal koleksi dua dimensi. “Semoga acara ini nanti ada lagi. Kalau bisa, selain koleksi kertas dua dimensi juga dibahas soal konservasi koleksi audioviosual,” usulnya.

Ternyata bukan hanya mahasiswa Ilmu Perpustakaan yang merasakan pentingnya tips merawat buku. Bahkan, Fadil Muhammad (20), seorang mahasiswa Prodi Teknik Informasi Universitas Komputer Indonesia yang hadir dalam acara itu mewakili Klab Guriang Sahabat Museum KAA menyatakan, dirinya kini mulai berhati-hati dalam memperlakukan buku. “Sekarang saya sudah tahu ilmunya. Jadi ya harus lebih berhati-hati,” terangnya.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dalam acara itu menyampaikan, acara bengkel kerja serupa telah rutin digelar setiap tahun di Museum KAA untuk upaya pelestarian Nilai-nilai KAA. Menurutnya, Museum KAA sesuai koleksi yang dimilikinya terkategori museum sejarah karena mengabadikan peristiwa bersejarah KAA 1955.

Peristiwa itu, lanjutnya, terekam melalui berbagai koleksi yang sebagian besar berbentuk dua dimensi seperti dokumen dan arsip yang dihasilkan KAA. Meski kini telah hadir teknologi arsip digital, namun demikian, menurutnya, arsip konvensional tak kalah pentingnya tetap harus dirawat dengan baik.

Keberlangsungan dokumen dan arsip itu, jelasnya, merupakan sumber nilai yang tak terkira. Itu sebabnya, keduanya perlu terus dirawat dan dijaga supaya terus menginspirasi generasi muda. Alhasil, ia memandang, upaya peningkatan kapasitas konservasi koleksi dan perpustakaan di Museum KAA perlu terus dilakukan.

Dalam acara ini peserta bukan cuma belajar teori perawatan koleksi dua dimensi tapi juga mempraktikan langsung teknik konservasi kertas, menjahit kertas, dan enkapsulasi dokumen. Acara yang dihadiri 50 peserta itu berlangsung dari pagi hingga sore hari.

Berbeda dengan acara yang digelar di tahun sebelumnya, dalam acara kali ini Museum KAA pertama kali melibatkan kehadiran sejumlah mahasiswa asal Program Studi Ilmu Perpustakaan asal Universitas Islam Nusantara dan Universitas Padjadjaran.

Sumber: Museum KAA

Share