Universitas Galuh Rekrut dan Latih Edukator Museum Universitas Galuh

IMG-20170212-WA0006Suasana seleksi calon edukator Museum Universitas Galuh di Universitas Galuh, Kamis, (26/01/2017). (Sumber Foto: Yeni Wijayanti)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Universitas Galuh melalui Museum Universitas Galuh telah merekrut calon edukator museum pada Kamis, (26/01/2017). Seleksi itu diikuti oleh sembilan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Galuh. Hasilnya, ada dua kandidat terpilih, yakni Ade Nugraha dan Risna Rohaeni. Mereka akan bertugas sebagai edukator Museum Universitas Galuh.

Kami mengapresiasi kegiatan ini (rekrutmen – red). Kami berharap mahasiswa yang terpilih nanti dapat mengembangkan ilmunya usai pembekalan. Sebab, penting bagi masa depan laboratorium sejarah dan dan budaya Unigal (Universitas Galuh – red),” ujar Wakil Rektor 1 Universitas Galuh, Drs. Yagus Triana HS., M.Pd.

Wakil I Rektor Universitas Galuh ini mengatakan, usai seleksi dua mahasiswa terpilih itu mengikuti pengarahan perihal edukator museum dari para juri. Sedangkan materi pengembangan museum akan diberikan di Museum KAA selama tiga hari mulai tanggal 2 hingga 4 Februari 2017. “Dua pembekalan itu bermanfaat bagi mereka yang kelak diperbantukan dalam pengelolaan museum kami,” imbuhnya.

Sementara itu, dosen Program Studi Sejarah Universitas Galuh, Yeni Wijayanti menjelaskan proses seleksi. Museum Universitas Galuh mengundang dua juri untuk menilai peserta seleksi, yakni Agus Abdul Haris dari Museum Karangkamulyan Ciamis, dan Yuyus Supriatna dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh.

Yeni juga mengungkapkan kriteria seleksi calon edukator itu. Menurutnya, Ada lima hal setidaknya yang wajib dikuasai oleh calon edukator museum. Kelima hal itu antara lain adalah penguasaan materi sejarah koleksi Museum Universitas Galuh, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kejelasan intonasi suara dalam menerangkan, dan kemampuan meyakinkan pengunjung, serta kelayakan penampilan.

Para peserta seleksi, urai Yeni, duduk di semester yang berbeda-beda. Misalnya, Ade Kurniawan dan Anita duduk di tingkat empat. Lalu, tiga mahasiswa di tingkat tiga, yakni Yani Suryani, Tria Wahyuni, dan Ade Nugraha. Kemudian, Sunalar Sam Rabbani dan Risna Rohaeni di tingkat dua. Terakhir, dua mahasiswa di tingkat pertama, yaitu Andre Rustandi dan Risna Andriani.

IMG-20170212-WA0005Sembilan peserta seleksi calon edukator Museum Universitas Galuh di Universitas Galuh, Kamis, (26/01/2017). (Sumber Foto: Yeni Wijayanti)

Yeni juga menuturkan kisah awal berdirinya Museum Universitas Galuh. Cikal bakal museum itu, papar Yeni, berawal pada tahun 2010. Waktu itu Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh, Yat Rospia Brata, M.Si merintis pendirian laboratorium sejarah sebagai Pusat Kajian Budaya Galuh. Seiring itu, pendirian bangunan dimulai dan selesai pada tahun 2011. Selanjutnya, H. Kuswandi, M.Pd ditunjuk sebagai penanggung jawab Pusat Kajian Budaya Galuh.

Pada Rabu (11/04/2012) Pusat Kajian Budaya Galuh menggelar acara Sarasehan Budaya. Dalam acara itu, pusat kajian mengundang BOTS (Baresan Olot Tatar Sunda – red) yang didirikan pada Kamis, (20/05/2010). Acara dihadiri tak hanya oleh Duta Sawala BOTS, Eka Santosa tapi juga oleh perwakilan dari berbagai masyarakat adat yang ada di tatar sunda, pemerhati budaya, dan juga perwakilan instansi pemerintah Kabupaten Ciamis, seperti Dinas Pendidikan, dan Dinas Pariwisata dan Budaya, serta awak media.

Tahun 2014 sebuah gazebo dibangun tepat di depan bangunan utama laboratorium sejarah. Peresmian gazebo dilaksanakan pada Jumat (23/10/2015) dalam rangkaian acara seminar nasional bertajuk Sejarah Lokal di Universitas Galuh. Selanjutnya, pada Juli 2016 para pemimpin Universitas Galuh sepakat mengubah laboratorium sejarah itu menjadi Museum Universitas Galuh.

Bulan Agustus 2016, Museum Unigal didaftarkan menjadi anggota Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jawa Barat. Bulan November 2016 Museum Unigal resmi menjalin kerja sama dengan Museum KAA yang dituangkan dalam sebuah MoA,” pungkas Yeni.

Sumber: Museum Universitas Galuh Ciamis