Warga Bandung Bergotong Royong Pinjamkan Mobilnya untuk KAA

BANDUNG, MUSEUM KAA – Panitia memperkirakan setiap hari KAA akan memerlukan 30 ton bensin. Sebagai cadangan, panitia juga berencana menyediakan 175 ton bensin. Akan tetapi, beberapa hari menjelang perhelatan KAA perusahaan minyak STANVAC mendadak tidak sanggup lantaran kesulitan teknis.

Demikian kenang Roeslan Abdulgani yang karib disapa Cak Roes selaku Ketua Sekretariat Bersama KAA dalam penggalan kisah Suka Duka Menjelang Konferensi dalam memoarnya The Bandung Connection.

Cak Roes mengakui, sulit rasanya menafikkan kesan ada upaya pihak tertentu untuk mempersulit transportasi KAA dulu itu. Padahal, sebelumnya perusahaan minyak milik Amerika itu sudah menyatakan kesediaannya. Kala itu, Indonesia memang masih belum memiliki perusahaan minyak nasional.

Namun demikian, tulis Cak Roes, setelah Direksi STANVAC kena pleter terus, akhirnya semua kesulitan teknis itu diatasi tepat waktu. Alhasil, sebuah instalasi dengan kapasitas 800.000 liter bensin didirikan di CirebonSedangkan, 4 buah pom bensin baru di Bandung sudah siap melayani transportasi KAA.

Bensin sebanyak itu sangat penting bagi KAA. Pasalnya, Sekretariat Bersama KAA telah menyediakan 143 mobil sedan, 30 taksi dan 20 bus. Kendaraan sebanyak itu akan melayani delegasi dan wartawan selama KAA berlangsungTak lupa, 230 supir yang siap sedia setiap saat di sekitar Jalan Braga.

Soewarma, juru transportasi KAA dalam buku Di Balik Layar KAA karya Sulhan Syafii daUlly Rangkuti mengatakan, panitia KAA juga telah menyiapkan sejumlah bis malam KAA yang menghubungkan Jakarta ke Bandung.

Selain bus, menurut kesaksiannya, moda transportasi lainnya turut pula disiagakan, seperti kereta api dan pesawat terbang. Ia masih mengingat dari Gambir ke Bandung tersedia kereta api khusus KAAKereta ini dibagi dalam 2 kelas, yakni 2 dan kelas 3. Di kursi kelas 2, jelasnya, hanya ada 172 tempat duduk yang tidak dijual bebas. Kursi-kursi itu hanya untuk mereka yang perjalanannya diurus oleh Travel Biro Orie Express.

Sedangkan untuk moda penerbangan, panitia KAA sudah sejak tanggal 15 April 1955 menyiapkan 7 penerbangan. Setiap hari pesawat Garuda Indonesia berangkat dari Bandara Kemayoran di Jakarta dan mendarat di Bandara Andir di Bandung.

Selama persiapan KAA, Soewarma sendiri sudah sibuk sejak tanggal 14 April 1955 lantaran ada beberapa delegasi yang datang lebih awal. Sedangkan saat pembukaan KAA ia lebih banyak berada di bagian samping Gedung Merdeka, tepatnya di Jalan Braga dan Jalan Naripan tempat kendaraan disiapkan. Dari sana, ia mengatur pergerakan kendaraan yang dibutuhkan delegasi.

Selain Soewarma, Landung yang juga seorang guru turut terlibat dalam urusan kendaraan KAA. Ia yang kala itu berusia 23 tahun aktif sebagai relawan. Kesaksian Landung cukup mengagetkan. Pasalnya, sebagai relawan ia bertugas sebagai pengumpul mobil milik Warga Bandung. Lelaki kelahiran 11 Juli 1932 itu pun lantas mendatangi warga Bandung yang memiliki mobil.

Sambil menggunakan sepeda, ia bertamu ke beberapa rumah orang kaya di Bandung. Menurutnya jumlahnya tidak banyak, sekitar puluhan mobil saja. Untungnya, semua keluarga yang ditemui Landung memberikan pinjaman mobil dengan sukarela. Sebab, mereka paham konferensi harus sukses.

Mobil-mobil yang dipinjam itu menjadi tanggung jawab panitia. Bensinnya diisi panitia. Sopirnya adalah perwira kepolisian yang tengah pendidikan di Jakarta,” kenang Landung.

Sumber: Museum KAA

Share